Rabalah Pangkal Jalan

Alwira Fanzary
Senin, 11 Februari 2019 06:58:11
Alwira Fanzary Indragiri

Sesuai dugaan. Sepaket dengan harapan. Akhirnya ada juga wartawan senior menyajikan ramuannya di momentum Hari Pers Nasional tahun ini: Asam, kelat, pahit sekaligus. Untuk mereka yang bergelut di media massa. Atau setidaknya 'tuk saya. Dua hari menunggu.

Diawali dari Ramon Damora: Stanley dan Mogulisme Media. Itu yang disajikan mantan Ketua PWI Kepulauan Riau yang juga sastrawan itu. Tulisannya mungkin mewakili kegelisahan dari insan pers akan penguasaan media massa oleh konglomerasi. Ini hanya analisa permukaan yang saya tangkap. Saya yakin jauh lebih dalam.

Tak cukup disitu. Sehari usai Jokowi dianugerahi Penghargaan Kemerdekaan Pers, ia kembali meliuk dengan kata-katanya. Khas orang Melayu.

HPN, Hari Pelanduk Nasional. Sebutnya.

Ini sedikit kutipannya.

Baca: Ratusan Prajurit Kodam XIX Gelar Karya Bakti Bersihkan Fasilitas Publik Pekanbaru

Pada Hari Pelanduk Nasional

Pelanduk terbungkuk-bungkuk

Mencium kaki Raja Singa

Memohon selfie rebut-rebutan

Baca: DYK Riau Bahas Kebijakan Hukum Pidana Hadapi Fenomena LGBT Berbasis Nilai Pancasila

Ngasih upeti Piala Kemerdekaan.

Hari Pelanduk Nasional. Katanya. Bukan Hari Pers Nasional. Padahal,. Memanglah.

Menyusul. Atau mungkin lebih awal. Tulisan M. Nigara: Mempertanyakan Netralitas Dewan Pers. Mantan Wasekjen PWI ini gundah dengan disematkannya Presiden ke 7 Indonesia itu dengan penghargaan medali Kemerdekaan Pers. Argumennya sulit ditolak. Boleh diuji.

Baca: Nobar Piala Dunia 2026 di Kominfo Kampar Semarak, UMKM Lokal Ikut Tumbuh dan Berdaya

Tulisan Hersubeno Arief. Saya tunggu-tunggu. Dan mungkin yang paling saya tunggu. Ternyata belum juga muncul. Bisa jadi benar kata Djajang Nurjaman. Pemerhati media itu. Hersu mungkin sudah kehabisan kata-kata menggambarkan semua keganjilan pers Indonesia saat ini.

Hanya ada ucapan turut berduka beserta seuntai bunga putih atas anugerah medali Kemerdekaan Pers di tampilan web hersubenoarief.com. Walau saya masih menunggu tulisan terbarunya. Pastinya tentang Pers. Semoga hari ini.

Dahlan Iskan? Berharap di Di'sway nya yang muncul setiap hari itu ada digoreskan tentang fenomena pers Indonesia terbaru. Boleh tentang konglomerasi. Boleh tentang kemesraan dengan penguasa. Atau, terserah. Sekehendak Raja media itu.

Mungkin lancang saya berani menafsirkan tulisan para pentolan media diatas. Namun apa daya jari-jari tangan sudah gatal nak sedikit meracau. Mohon izin.

Selama ini bukan tidak ada makian atau kritikan dari mereka yang tidak bergelut di media. Ada. Hanya saja perangkat panca indra insan pers yang belum mau menerimanya: Pers Indonesia sudah menjadi humasnya Istana. Pers Indonesia corongnya penguasa. Atau kata sejenis. Sudah terlalu sering kita mendengarnya. Dan semua tahu itu.

Baca: Wabup Kampar Tutup Pespul Cup VII 2026, GPC Gobah Raih Gelar Juara

Lantunan puja-puji juga tidak sedikit. Terutama bagi mereka yang butuh pencitraan: Pers mitra kami, Pers sahabat kami. Dan basa-basi lainnya. Membuai. Pada ujungnya menenggelamkan. Sebagian.

Sebagai pilar demokrasi, pers sepatutnya saban waktu merefleski dirinya. Memodifikasi wujudnya sesuai kebutuhan zaman. Namun juga harus secara sadar memberi jarak diri. Terutama pada penguasa: Tidak terlalu dekat, agar objek yang dipandang tidak bias. Juga tidak terlalu jauh, meminimalisir kekeliruan.

Namun tetap matanya membelalak, telinganya menyimak, dan mulutnya menggonggong untuk kepentingan publik. Sekaligus menghamparkan senyuman merekahnya. Tapi juga eksis sebagai badan usaha profit.

Regulasi kepemilikannya sudah saatnya dikoreksi. Bisa jadi remuknya reputasi pers Indonesia saat ini karena dikuasai pejabat partai politik. Sebab bisa disetir kemana mau. Sebut saja, peristiwa harum mewangi jutaan manusia di pusat ibu kota bisa ditutupi dengan hamparan sampah di Teluk Jakarta.

Apatah lagi tahun politik ini, segala macam umbaran kepentingan elektoral menjejal di semua media mainstream: Kami janji, kami akan, kami komitmen. Bertalu-talu. Padahal sudah membuat pembaca ngilu.

Baca: SF Hariyanto Tegaskan ASN Tolak Perintah yang Salah dan Laporkan Penyelewengan

Semua, kecuali mereka yang culas, pasti menginginkan pers kembali kepangkal jalan. Bukan melangkah dari belakang, cukup dari tempat berdiri sekarang. Sambil berjalan, bersihkan tubuh dari tempias yang memercik. Pasti bisa.

Oleh : Alwira Fanzary Indragiri

- Ketua OKP Lingkar Anak Negeri Riau (LAN-R)

- Wartawan



Terkait
Pemkab Kampar Matangkan Persiapan Idul Adha 1447 H, Qurban Dipusatkan di Markaz Islami Bangkinang
Pemkab Kampar Matangkan Persiapan Idul Adha 1447 H, Qurban Dipusatkan di Markaz Islami Bangkinang
Ny. Tengku Nurheryani Ahmad Yuzar Tekankan Transformasi
Pastikan Mudik Aman, Kadinkes Kampar Keliling Pantau 8
Wabup Kampar Terima Kunjungan Ninik Mamak Kenegerian Li
Lainnya
Bupati Kasmarni Ajak Masyarakat Bandar Laksmana Bersatu Bangun Daerah
Bupati Kasmarni Ajak Masyarakat Bandar Laksmana Bersatu Bangun Daerah
Wabup Sulaiman Sebut Pelayanan Disdukcapil Rohil Semaki
Dinas PUPR Sudah Perbaiki 684 Titik Jalan Rusak yang ad
Kabut Asap Masih Pekat di Riau, Libur Sekolah Diperpanj
Pariwara
Ritual Bakar Tongkang Bagansiapiapi Mendunia, Tradisi Sejak 1820 Jadi Magnet Wisata Internasional
Ritual Bakar Tongkang Bagansiapiapi Mendunia, Tradisi Sejak 1820 Jadi Magnet Wisata Internasional
Hendry Munief Dorong UMKM Pariwisata Belajar dari Thail
Pj. Wali Kota Pekanbaru Luncurkan Program Penghapusan D
Politik
PKS Buka Suara soal Wacana Syarat Capres Minimal Dua Fraksi
PKS Buka Suara soal Wacana Syarat Capres Minimal Dua Fraksi
PDIP Respons Wacana Capres Minimal Didukung Dua Fraksi
Zulhas Tak Mau Nyapres 2029, PAN Tegaskan Tetap Dukung
Daerah
PT Musim Mas Kerahkan Tim dan Peralatan Perkuat Penanganan Karhutla di Kerumutan Pelalawan
PT Musim Mas Kerahkan Tim dan Peralatan Perkuat Penanganan Karhutla di Kerumutan Pelalawan
Bupati Kampar Pastikan Bara Karhutla di Rimbo Panjang B
Hadirkan Koh Dennis Lim, Jambore BKPRMI Riau 2026 Usung
Entertainment
Teach You a Lesson di Netflix: Drama Kontroversial yang Menampar Keras Dunia Pendidikan
Teach You a Lesson di Netflix: Drama Kontroversial yang Menampar Keras Dunia Pendidikan
Salman Borneo, Pengisi Suara Plankton dan Giant di Film
Hendry Munief  Dorong Pemerintah untuk Hadir Bantu Ind
Olahraga
Steven Gerrard Soroti Kesalahan Transfer Liverpool: Neco Williams Seharusnya Tak Dijual
Steven Gerrard Soroti Kesalahan Transfer Liverpool: Neco Williams Seharusnya Tak Dijual
Syahrul Aidi Dorong Gala Desa Kuok Jadi Ajang Lahirkan
Bupati Kampar Buka Gala Desa Riau, Dorong Generasi Muda
Leisure
Dua Penggerak Desa Sejahtera Astra Raih Satyalencana Kepariwisataan dari Presiden RI
Dua Penggerak Desa Sejahtera Astra Raih Satyalencana Kepariwisataan dari Presiden RI
Masyarakat Ingin Libur ke Rupat Utara Terpantau Meningk
Pengelola Wisata De Kotoz Audiensi dengan Bupati Kampar
Viral
PO MTrans Klarifikasi Viral Klakson Bus Suara Jokowi, Disebut Hasil Rekayasa
PO MTrans Klarifikasi Viral Klakson Bus Suara Jokowi, Disebut Hasil Rekayasa
Semarakkan Ramadhan, Masjid ini Rutin Berikan Hadiah Um
Polda Sumut Angkat Bicara soal Video Mahasiswa Berjaket