Dentuman Misterius Guncang Bandung, Pakar Ungkap Kaitannya dengan Erupsi Anak Krakatau

Kanama
Sabtu, 5 September 2026 20:46:07

KANALSUMATERA.com - BANDUNG — Suara dentuman keras yang membuat warga Bandung dan sejumlah daerah di Jawa Barat terkejut pada Jumat (04/09/2026) malam hingga Sabtu (05/09/2026) dini hari mulai mendapat penjelasan dari ahli kebencanaan.

Dentuman yang terdengar berulang bahkan dilaporkan membuat kaca dan pintu rumah bergetar. Fenomena tersebut kemudian dikaitkan dengan aktivitas erupsi Gunung Anak Krakatau (GAK) di Selat Sunda.

Anggota Ikatan Ahli Kebencanaan Indonesia (IABI), Daryono, menjelaskan suara erupsi Anak Krakatau secara teori memang dapat menjalar hingga wilayah yang berjarak ratusan kilometer.

Baca: Bukan Sekadar Tangkap Ikan, Mancokau Tanjung Belit Jadi Benteng Alam

Menurutnya, kondisi atmosfer berupa lapisan inversi suhu menjadi salah satu faktor yang memungkinkan suara letusan terdengar jauh dari sumbernya.

"Dengan topografi yang berbentuk cekungan yang dikelilingi pegunungan menjadikan kawasan ini rentan dilingkupi inversi suhu pada kondisi tertentu, yaitu ketika udara dingin terperangkap di lembah dan lapisan udara hangat menutupinya dari atas," kata Daryono, Sabtu (05/09/2026).

Baca: Bukan Sekadar Kemah, KEMBARA PKS DIY Asah Bela Negara dan Leadership

Cekungan Bandung Bisa Memperkuat Pantulan Suara

Daryono menerangkan, karakter geografis Bandung yang berupa cekungan dan dikelilingi pegunungan dapat mendukung terbentuknya lapisan inversi.

Kondisi tersebut membuat udara dingin terperangkap di wilayah rendah, sementara lapisan udara yang lebih hangat berada di atasnya. Dalam situasi tertentu, kondisi itu dapat membuat gelombang suara merambat lebih jauh.

Baca: Satpol PP Kampar Segel 7 Warung Karaoke di Bangkinang, Diduga Langgar Perda

"Pada saat Cekungan Bandung tertutupi lapisan inversi, seolah terbentuk 'lorong raksasa'. Cukup dengan fenomena erupsi sangat aktif di Gunung Anak Krakatau (GAK) di Selat Sunda, maka dentuman GAK akan menjalar di sepanjang lembah dan terpantul berulang-ulang mirip terbentuknya gema seperti dilaporkan sebagian warga Bandung pagi dini hari tadi," katanya.

Dengan mekanisme tersebut, suara letusan yang berasal dari Selat Sunda dapat terdengar di Bandung meski jaraknya sangat jauh.

Baca: Dinkes Pekanbaru Catat 706 Warga Terpapar ISPA Selama Kabut Asap

Bukan Berarti Suara Mengikuti Arah Angin

Menurut Daryono, menjauhnya gelombang suara dari sumber tidak semata-mata ditentukan arah angin di permukaan.

"Gelombang akustik dari Gunung Anak Krakatau tetap dapat menjangkau Bandung meskipun angin permukaan bertiup dari timur ke barat karena gelombang tersebut merambat ke lapisan atmosfer atas (stratosfer), di mana pola angin dan temperatur di ketinggian tersebut membengkokkan kembali gelombang infrasonik berenergi tinggi itu ke arah bawah menuju daratan, sehingga dapat melompati hambatan angin lokal di permukaan bumi," jelasnya.

Baca: Hari Pramuka ke-65, Pemkab Kampar Tegaskan Pentingnya Pembentukan Karakter Generasi Muda

Lapisan inversi juga dapat membuat gelombang akustik mengalami pantulan berulang. Akibatnya, suara yang awalnya berasal dari letusan bisa terdengar berbeda ketika sampai di lokasi yang jauh.

"Inilah konsep dasar mengapa lapisan inversi dapat membuat suara letusan terdengar hingga jauh karena proses multi refleksi. Suara letusan jika sudah jauh dan dalam kondisi atmosfer tertentu dapat berubah 'anatominya' sehingga tidak lagi seperti suara letusan asli di sumbernya, tetapi dapat mirip dentuman," jelasnya.

Baca: BGN Ungkap Penyebab 512 Santri Sidoarjo Keracunan MBG, SOP Distribusi Disorot

Fenomena serupa, menurut Daryono, bukan hal yang sepenuhnya baru. Lapisan inversi atmosfer diketahui dapat memengaruhi perambatan berbagai gelombang suara, termasuk suara dari kendaraan, kereta api, petir, maupun sumber lainnya.

PVMBG Juga Menduga Berkaitan dengan Anak Krakatau

Kepala Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) Kementerian ESDM, Rita Susilawati, turut menjelaskan kemungkinan hubungan dentuman Bandung dengan aktivitas Gunung Anak Krakatau.

Baca: Muskablub Korpri Kampar, Ardi Mardiansyah Terpilih Pimpin hingga 2030

Ia menyebut energi akustik yang dihasilkan aktivitas erupsi tertentu dapat merambat hingga jarak yang sangat jauh.

"Jadi, kalau dari pengamatan yang kami lakukan, tidak hanya untuk Anak Krakatau, tetapi juga beberapa gunung api lainnya di Indonesia, ketika erupsi besar terjadi gitu ya, atau tidak hanya erupsi besar, erupsi dengan tipe tertentu, karena kalau tipe tuh phreatic ini memang biasanya disertai dentuman yang nyaring," kata Rita dalam konferensi pers dilihat YouTube Badan Geologi, Sabtu (05/09/2026).

Baca: Wabup Misharti Jadi Narasumber Kuliah Umum UIN Suska Riau, Ajak Mahasiswa Berani Sukses

Rita mengatakan dugaan tersebut muncul karena waktu terjadinya dentuman di Bandung berdekatan dengan aktivitas erupsi Gunung Anak Krakatau.

"Untuk penyebabnya tadi seperti kami sampaikan, kami memang menduga nih suara yang tadi karena berhubungan dengan erupsi Anak Krakatau yang terjadi tadi malam, dugaan kuatnya memang itu berhubungan dengan gunung api Anak Krakatau," sambungnya.

Dengan adanya penjelasan dari ahli kebencanaan dan PVMBG tersebut, suara dentuman yang sempat menimbulkan tanda tanya di tengah masyarakat Bandung diduga kuat memiliki kaitan dengan aktivitas vulkanik Gunung Anak Krakatau.

Baca: APBD Perubahan Kampar 2026 Capai Rp2,57 Triliun, Belanja Daerah Naik

Namun, fenomena tersebut juga berkaitan dengan kondisi atmosfer dan karakter geografis wilayah Bandung yang dapat memengaruhi perjalanan serta pantulan gelombang suara. (SM)



Terkait
Kembara Bela Negara PKS Kampar 2026, Peserta Jalani Tantangan Alam
Kembara Bela Negara PKS Kampar 2026, Peserta Jalani Tantangan Alam
DPRD Bengkalis Setujui Digitalisasi Tiket Penyeberangan
Lainnya
Benahi Infrastruktur, Pemko Batam Tingkatkan Daya Tarik Belakangpadang
Benahi Infrastruktur, Pemko Batam Tingkatkan Daya Tarik Belakangpadang
Pemko Batam Berencana Eksplorasi Destinasi Wisata di Pu
Sekko Pekanbaru Lantik 8 Lurah dan 7 Pejabat Baru
Pasaman Kejar Ketertinggalan, Kualitas SDM Diperkuat da
Viral
PO MTrans Klarifikasi Viral Klakson Bus Suara Jokowi, Disebut Hasil Rekayasa
PO MTrans Klarifikasi Viral Klakson Bus Suara Jokowi, Disebut Hasil Rekayasa
Semarakkan Ramadhan, Masjid ini Rutin Berikan Hadiah Um
Polda Sumut Angkat Bicara soal Video Mahasiswa Berjaket
Hoax or Not
Hotel di Lampung Di Teror Email Bom, Polisi Bergerak
Hotel di Lampung Di Teror Email Bom, Polisi Bergerak
Banyak Pelaku Terorisme Berasal dari Sumbar dan Sumsel,
Soal Penelantaran Kakek Bernama Abdul Jalil di Medan, I
Ekonomi
Harga Emas Anjlok 2,9%, Sinyal Kevin Warsh Picu Kekhawatiran Kenaikan Suku Bunga The Fed
Harga Emas Anjlok 2,9%, Sinyal Kevin Warsh Picu Kekhawatiran Kenaikan Suku Bunga The Fed
Indonesia Bidik Industri Chip Global, 15.000 Tenaga Ker
BGN Coret 80 Sekolah Swasta Elite dari Penerima MBG, Ad
Hukum
Ruben Onsu Lunasi Kerugian Rp3,5 Miliar, Kasus Penipuan Berakhir Damai
Ruben Onsu Lunasi Kerugian Rp3,5 Miliar, Kasus Penipuan Berakhir Damai
Ricuh Demo 27 Agustus di Jakarta, 322 Orang Diamankan d
Karhutla Riau Kian Mengkhawatirkan, Roni Agustian Minta
Leisure
Dua Penggerak Desa Sejahtera Astra Raih Satyalencana Kepariwisataan dari Presiden RI
Dua Penggerak Desa Sejahtera Astra Raih Satyalencana Kepariwisataan dari Presiden RI
Masyarakat Ingin Libur ke Rupat Utara Terpantau Meningk
Pengelola Wisata De Kotoz Audiensi dengan Bupati Kampar
Politik
Ridho Rahmadi dan Taufik Hidayat Mundur, Partai Ummat Masuk Masa Transisi Kepemimpinan
Ridho Rahmadi dan Taufik Hidayat Mundur, Partai Ummat Masuk Masa Transisi Kepemimpinan
Elektabilitas Eisenkot Ungguli Netanyahu, Partai Smotri
Survei Median: KDM Tembus 19,8 Persen, Elektabilitas Gi
Lifestyle
Kompres Es di Ketiak untuk Redakan Kecemasan? Ini Penjelasan Psikiater
Kompres Es di Ketiak untuk Redakan Kecemasan? Ini Penjelasan Psikiater
Bukan Gaji Bulanan, Segini Uang dan Bonus yang Bisa Dit
BPJS Kesehatan Masih Defisit Rp2 Triliun per Bulan, Dan