Dosen Politeknik Kampar Dorong Bungkil Sawit Jadi Pakan Alternatif Ikan
KANALSUMATERA.com - KAMPAR – Bungkil inti sawit atau palm kernel cake (PKC) mulai dilirik sebagai bahan baku alternatif pakan ikan oleh pembudidaya di Desa Rantau Merangin, Kabupaten Kampar, Riau. Senin (07/09/2026).
Pemanfaatan hasil samping industri kelapa sawit tersebut diperkenalkan tim dosen Program Studi D3 Teknik Pengolahan Sawit (TPS) Politeknik Kampar melalui kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat (PkM).
Kegiatan yang diketuai Ir. Fatmayati, ST., M.Si. itu menyasar Kelompok Pembesaran Ikan Mekar Terbilang yang dipimpin Ujang Zulherman. Kelompok tersebut beranggotakan 10 orang dan mengelola tujuh unit kolam untuk pembesaran ikan patin, nila, serta baung.
Baca: Gebyar Literasi Kampar Dibuka, Ahmad Yuzar Dorong Warga Gemar Membaca dan Kenali Sejarah
Dalam satu siklus produksi, kelompok pembudidaya mampu menghasilkan sekitar 2.000 hingga 5.000 kilogram ikan konsumsi. Tingginya produksi tersebut juga diikuti kebutuhan pakan yang cukup besar, yakni berkisar 3.000 sampai 8.000 kilogram setiap siklus.
Selama ini, kelompok telah memiliki kemampuan memproduksi pelet secara mandiri dengan mesin pencampur dan pencetak pakan. Namun, sebagian besar bahan baku masih berasal dari produk komersial sehingga biaya pakan menjadi salah satu komponen penting dalam operasional budidaya.
Baca: Karhutla Kembali Membara di Dayun Siak, 50 Personel Dikerahkan
Melihat kondisi tersebut, tim dosen Politeknik Kampar memberikan edukasi mengenai peluang pemanfaatan bungkil inti sawit sebagai salah satu bahan dalam formulasi pakan.
Tim menekankan bahwa PKC bukan dimaksudkan untuk menggantikan seluruh bahan pakan. Bahan tersebut dapat menjadi salah satu alternatif yang dikombinasikan dengan bahan lain sesuai kebutuhan nutrisi dan jenis ikan yang dibudidayakan.
Materi penyuluhan mencakup karakteristik bungkil inti sawit, kandungan nutrisi, potensi pemanfaatannya, prinsip dasar formulasi pakan, hingga pemanfaatan bahan baku lokal untuk mendukung efisiensi produksi.
Baca: Nakes Turun ke Jalan, 4.000 Masker Gratis Dibagikan di Tengah Kabut Asap
Selain penyampaian materi, tim PkM juga melakukan observasi langsung ke lokasi budidaya. Mereka melihat kondisi kolam, area produksi pakan, mesin pencampur dan pencetak pelet, serta berbagai fasilitas yang dimiliki kelompok pembudidaya.
Diskusi bersama pembudidaya berlangsung interaktif. Sejumlah aspek turut dibahas, mulai dari kandungan nutrisi dan kualitas bungkil inti sawit hingga proses pengolahan, penyimpanan, serta peluang penggunaannya untuk ikan patin, nila, dan baung.
Baca: Diskominfo Mukomuko Pelajari E-Wartawan Kampar, Bidik Penguatan Publikasi Pemerintah
Pemanfaatan bungkil inti sawit juga dinilai memiliki peluang mendukung konsep ekonomi sirkular. Hasil samping industri kelapa sawit yang tersedia cukup melimpah di Riau dapat diberi nilai tambah dengan dimanfaatkan pada sektor perikanan budidaya.
Melalui kegiatan tersebut, pembudidaya mendapatkan pengetahuan baru mengenai pemanfaatan sumber daya lokal sebagai bagian dari formulasi pakan. Langkah ini diharapkan dapat membuka peluang peningkatan efisiensi usaha sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap bahan baku komersial.
Tim PkM Politeknik Kampar selanjutnya berencana melakukan pendampingan teknis, demonstrasi formulasi pakan, serta uji penerapan bungkil inti sawit pada skala usaha kelompok.
Baca: Satpol PP Kampar Segel 7 Warung Karaoke di Bangkinang, Diduga Langgar Perda
Tahapan lanjutan tersebut diperlukan untuk melihat secara langsung efektivitas penggunaan PKC terhadap kegiatan pembesaran ikan. Dengan demikian, inovasi yang diperkenalkan tidak berhenti pada kegiatan penyuluhan, tetapi dapat diuji dan dikembangkan sesuai kondisi usaha pembudidaya.
Inisiatif Politeknik Kampar ini sekaligus menunjukkan peluang hilirisasi hasil samping kelapa sawit untuk mendukung sektor perikanan. Pemanfaatan bahan lokal diharapkan dapat menciptakan nilai tambah dan mendorong usaha budidaya ikan yang lebih efisien serta berkelanjutan. (SM)
