Kembangkan Nagoya Walkable City, Berikut Tahapan yang Dibentuk BP Batam
KANALSUMATERA.com - Batam - Badan Pengelola (BP) Batam akan menyulap kawasan Nagoya sebagai kawasan Walkable City, yaitu kawasan yang ramah pejalan kaki. Dengan harapan Walkable City menjadi penopang wisata Nagoya.
Untuk eksekusi Nagoya Walkable City ini, ada beberapa tahapan yang dirancang oleh BP Batam. Fase pertama, fokus utama BP Batam adalah menciptakan crowd gathered, yakni menghidupkan kawasan dengan menghadirkan keramaian terlebih dahulu. Momentum dua agenda besar, Imlek dan Idulfitri, akan dimanfaatkan untuk menarik kunjungan masyarakat agar aktivitas ekonomi dan sosial di sepanjang Nagoya Heritage mulai bergerak.
“Pada tahap awal ini belum ada pembangunan fisik besar. Fokusnya adalah membangun kebiasaan baru masyarakat untuk datang, berkuliner, dan berbelanja melalui berbagai kegiatan dan event,” ujar Deputi Bidang Infrastruktur BP Batam, Mouris Limanto, Sabtu (3/1/2026).
Setelah kawasan mulai hidup, BP Batam akan melakukan pembenahan secara bertahap dan organik. Seiring meningkatnya kunjungan, ia mengharapkan para pemilik toko dan pelaku usaha terdorong untuk melakukan renovasi, mempercantik tempat usaha, serta berinovasi secara mandiri. Penataan lanjutan akan dilakukan secara perlahan mengikuti perkembangan kawasan.
Baca: BMKG Ingatkan Potensi Banjir Rob di Pesisir Kepri hingga 7 Februari: Termasuk Tanjung Pinang
BP Batam juga akan mendata seluruh Pedagang Kaki Lima (PKL) yang ada di Nagoya. Hingga sekarang
jumlah PKL yang terlibat dalam pengembangan kawasan ini masih dalam proses pendataan. Untuk itu, BP Batam telah menjalin kerja sama dengan Asosiasi Pedagang Kaki Lima Indonesia (APKLI) yang menyatakan dukungan penuh terhadap proyek tersebut dan siap membantu penyediaan data PKL.
Selain itu, peluang kerja sama juga dibuka dengan pihak perbankan, salah satunya Bank BRI yang dikenal sebagai bank pendukung UMKM. Meski masih dalam tahap diskusi dan perumusan konsep, respons dari BRI dinilai positif dan pihak perbankan tersebut turut serta dalam survei lapangan.
Dalam peninjauan lapangan, seluruh area dinilai masih membutuhkan perhatian serius. Survei ini melibatkan berbagai pihak, mulai dari unsur BP Batam, Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar), Dinas Perumahan dan Kawasan Pemukiman (Perkim), hingga pengembang kawasan. Bersama-sama, mereka mengidentifikasi sejumlah persoalan, seperti fasilitas penyeberangan yang belum nyaman, kondisi pedestrian yang rusak, serta sistem drainase yang belum memadai.
“Hasil survei ini akan menjadi dasar penentuan langkah perbaikan ke depan. Penataan yang dilakukan bukan untuk menertibkan atau menggusur, tetapi merapikan dan memperbaiki kondisi yang sudah ada,” kata Mouris.
Baca: PGN Gesa Pemasangan 10.000 Jargas Rumah Tangga di Batam, Untuk Tahap Awal 3 Kecamatan ini
Ia bilang, penataan juga mencakup peningkatan kualitas kios serta pembaruan sistem pendukung, termasuk metode pembayaran yang saat ini masih banyak dilakukan secara manual.
Dengan konsep penataan bertahap dan kolaboratif, dia berharap Nagoya Heritage dapat tumbuh menjadi kawasan wisata perkotaan yang hidup, inklusif, serta mampu menggerakkan ekonomi lokal secara berkelanjutan.
Pengembangan kawasan direncanakan membentang dari Harbour Bay hingga kawasan Pakuwon, dengan panjang area pedestrian total sekitar 4,7 kilometer. Kawasan Nagoya akan diarahkan sebagai walkable city, yaitu areal ramah pejalan kaki yang nyaman, tertata, dan berorientasi pada aktivitas wisata serta ekonomi kreatif. (*)
