Bencana Banjir Kembali Mengancam Masyarakat Desa Gobah untuk Gagal Panen Padi
KANALSUMATERA.com - Masih belum lupa diingatan, tepatnya diakhir tahun 2018 lalu masyarakat Desa Gobah, Kecamatan Tambang, Kabupaten Kampar-Riau mengalami gagal penen padi diakibatkan oleh bencana banjir yang disebabkan oleh pelimpahan air dari PLTA Koto Panjang.
Dan kini, peristiwa serupa pun kembali mengancam masyarakat sekitar, dimana hingga Jumat (13/12/19) malam tadi, debit air pelimpahan oleh PLTA Koto Panjang, Riau tercatat kenaikannya mencapai 120 cm (centimeter), dan ini sejatinya telah cukup merendam seluruh area persawahan masyarakat sekitar.
Apa jadinya nanti jika pelimpahan air PLTA Koto Panjang ini terus bertambah, jelas bencana yang akan datang kembali. Karena, dengan debit air dengan pelimpahan yang hanya 120 cm ini saja sudah berhasil merendam seluruh persawahan dan terancam kembali gagal panen, apalagi kalau nantinya ditambah.
"Tahun lalu kita sudah mengalami gagal panen yang disebabkan banjir, saat banjir surut (tahun lalu) padi pun mati karena terlalu lama terendam air. Dan sekarang peristiwa yang sama pun kembali terjadi, rasanya sudah tak mampu lagi untuk beli beras," ujar seorang ibu rumah tangga di Desa Gobah, Misluna.
Tercatat, hingga Jumat waktu setempat, satu persatu masyarakat khususnya di Desa Gobah sudah mulai berhenti melakukan aktifitas seperti layaknya hari biasa seperti bekerja dikebun hingga mencari nafkah keluarga seperti manen kelapa sawit.
Baca: Bupati Kampar Pimpin Rapat Terkait Surat Edaran Mendagri Tentang Transformasi Budaya Kerja ASN
Pantauan dilokasi, para masyarakat disana hanya dapat duduk termenung sambil melihat air yang sudah mulai menggenangi rumah-rumah warga. Selaku kepala Rumah Tangga, Mamal (27) saat ditemui Kanalsumatera.com menyebutkan, jika kejadian ini (banjir) berlangsung lama, maka ia dengan terpaksa akan berhutang kepada tetangga untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari keluarganya.
"Apa nak dibuat, kalau kita hanya bekerja sebagai kuli ini, kalau melihat banjir cuma bisa pasrah. Karena kalau sudah begini (banjir), mau apapun sudah tak bisa, apalagi kalau kerja cuma jadi kuli kebun, bekerja dulu baru dapat upah. Sekarang mau dapat upah dari mana, kerja saja sudah tak bisa," ujar pria yang kesehariannya sebagai tukang panen sawit ini.
Kini, banjir yang saat ini tengah terjadi di Kabupaten Kampar-Riau khusuanya bagi masyarakat yang bermukim dihilir Sungai Kampar Kanan berharap agar peristiwa tersebut segera berakhir, karena ini (banjir) yang tengah melanda sepenuhnya bukan terjadi akibat bencana alam, akan tetapi juga dikarenakan oleh pelimpahan air di PLTA Koto Panjang.
Maka dari itu, masyarakat yang selama ini bermukim dihilir Sungai Kampar Kanan sangat berharap agar Managemen PLTA Koto Panjang segera mengurangi tingginya pelimpahan air demi keberlangsungan kehidupan masyarakat banyak. ***
