Akibat Kabut Asap, 5 Anak di Bukittinggi Terdeteksi Terkena ISPA
BUKITTINGGI,KANALSUMATERA.com - Kondisi beberapa hari terakhir di Kota Bukittinggi, semakin mengkhawatirkan akibat pengaruh kabut asap kebakaran hutan dan lahan (Kahutla) di Provinsi tetangga, mengakibatkan pengaruh pernapasan pada usia anak-anak maupun orang dewasa dan orangtua.
Kepada MinangkabauNews.com, Senin (23/9/2019) dokter spesialis anak Rumah Sakit Ahmad Muchtar (RSAM), Liza Fitria, Sp.A, M.Biomed didampingi kabag humas RSAM, Mursal Chaniago di ruang kerjanya poliklinik bagian anak-anak, menjelaskan anak-anak rentan dengan penyakit Inpeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA), gejala pertama anak-anak teridentifikasi ISPA adalah batuk-batuk kering dan berkelanjutan, jika kondisi tubuh menurun bisa masuk kuman-kuman yang lain akan berakibatkan inspeksi saluran pernapasan yang lebih berat, ini akan mengancam jiwa anak tersebut.
Selanjutnya Liza Fitria mengatakan untuk menjaga jangan sampai terjadi anak-anak terjangkit ISPA, sebaiknya lebih banyak di dalam rumah, jika keluar rumah pakailah masker untuk menutup hidung. Dan juga banyak minum air putih, makan buah-buahan.
"Dalam penanganan pasien anak-anak ini, diperiksa lebih dahulu kondisinya, jika katagori ringan diberi obat untuk rawat jalan dan kalau telah dikatakan berat, maka dirawat di rumah sakit," katanya.
Pada anak-anak dibawah usia 5 tahun sangat mempengaruhi kondisi badannya dengan adanya kabut asap akibat kahutla dan juga orang yang telah usia lanjut. ISPA itupun bermacam-macam jenisnya, ada batuk pilek, radang tenggorokan.
Liza Fitria menganjurkan jika anak-anak mengalami seperti itu, langsung periksa di puskesmas atau rumah sakit untuk menghindari jangan sampai terjadi lebih parah.
"Dari dua minggu ini sangat sekali peningkatan terjangkit ISPA sekitar 40 persen, ISPA menyangkut dengan pernapasan, mulai dari hidung, tenggorokan sampai ke paru-paru. Penyakit asma pengaruh sekali dengan kabut asap ini, asma ini adalah penyakit yang sudah ada sebelumnya," katanya.
Dengan adanya kabut asap ini dapat mengakibatkan kambuh kembali, kalau penyakitnya berat sekali dinamakan premonia, ucap Liza Fitria lulusan fakultas kedokteran Unand tahun 2013.
Sementara itu Hidayat Camat IV Angke orangtua pasien anaknya umur 5,5 tahun sekolah di Taman kanak-kanak yang sedang memeriksa kesehatan anaknya akibat kabut asap, mengatakan ini adalah pembelajaran khususnya saya sendiri dan masyarakat IV Angke, bahwa membiarkan anak bermain diluar rumah rentan sekali terhirup kabut asap.
"Awal mulanya anak batuk kering semalaman tak henti-henti, pilek, flu, maka langsung saya membawanya ke rumah sakit. Kita saling ingat mengingatkan untuk bagaimana kita bisa melindungi anak dan masyarakat, sekiranya ada yang seperti anak saya, langsung dibawa ke puskesmas atau rumah sakit," tukuk Hidayat.
Sedangkan kepala bagian humas RSAM, Chaniago mengatakan yang terindentifikasi ISPA sebanyak 5 orang di RSAM, pasien yang terjangkit ISPA sesuai dengan anjuran Gubernur dibebaskan dari biaya pengobatan.
"Hampir rata-rata pasien yang berobat ISPA adalah anak-anak, anak-anak rentan dengan berbagai penyakit, apalagi kini adanya kabut asap yang sangat mengganggu kesehatan," pungkas Chaniago. (Iwin SB)
