Ini penjelasan akademisi penyebab ubur-ubur terdampar ke pantai akhir-akhir ini

Mawardi Tombang
Jumat, 11 Oktober 2019 14:03:51
Ubur-ubur dalam keadaan mati terdampar di pantai kawasan Mandeh Pesisir Selatan

Padangg,KANALSUMATERA.com - Ketua Program Studi Sumberdaya Perairan, Pesisir dan Kelautan Pascasarjana Universitas Bung Hatta (UBH) Padang, Dr Harfiandri Damanhuri mengungkapkan fenomena ubur-ubur terdampar di Pantai Pariamandan Pesisir Selatan karena pembuangan limbah domestik dari daratan masuk ke laut terbawa oleh arus permukaan sehingga mengubah pola migrasi ubur-ubur.

"Perubahan iklim seperti perubahan arus dan pergerakan massa air laut menjadi rendah, sehingga tingkat kesuburan perairan dan kadar oksigen yang tinggi dapat meningkatkan ketersediaan sumber pakan bagi ubur-ubur," katanya saat dihubungi dari Padang, Jumat.
Hal itu juga disebabkan karena suburnya perairan pada waktu tertentu.

Selain itu juga disebabkan karena perubahan suhu bumi dan iklim seperti suhu panas yang relatif panjang dalam masa perubahan siklus, sehingga fitoplankton atau sumber makanan ubur-ubur tersebut menumpuk di satu tempat dan menyebabkan ubur-ubur juga menumpuk di daerah itu.

"Sehingga pada saat pergerakan arus, ubur-ubur tersebut ikut terbawa arus dan terdampar ke pinggir pantai," sambung dia.

Baca: KONI Payakumbuh Studi Banding ke KONI Pekanbaru, Dalami Program Pembinaan Atlet

Selain itu, peningkatan jumlah ubur-ubur juga disebabkan karena populasi penyu yang mulai langka di Sumatera Barat.

"Ubur-ubur merupakan makanan utama dari seluruh jenis penyu yang ada di dunia dan di perairan Sumatera Barat terdapat empat jenis penyu, namun saat ini populasinya mulai berkurang," kata dia.

Menurutnya peningkatan jumlah ubur-ubur tersebut tergantung cuaca, jika masih terjadi kabut, laut tropis menjadi lebih statis dan perairan akan menjadi subur, sehingga jumlah ubur-ubur semakin banyak naik ke permukaan.

"Selain itu, banyaknya debu menyebabkan cahaya ke permukaan laut berkurang, pergerakan air laut menjadi lambat, terjadi produktifitas perairan yang tinggi di permukaan, juga menyebabkan ubur-ubur naik ke permukaan," sambung dia.

Baca: 360 Hunian Tetap Dibangun di Agam, Penyintas Bencana Mulai Disiapkan untuk Relokasi

Ubur-ubur merupakan hewan plankton, transparan, bergerak atau berpindah karena ada arus laut yang dinamis.

"Apabila ubur-ubur tersentuh atau merasa terganggu maka reaksinya akan mengeluarkan racun sebagai media untuk melindungi diri dari lawannya, tingkat toksinnya tergantung jenis ubur-ubur," sambung dia.
Sama halnya seperti cumi-cumi yang mengeluarkan tinta hitam saat merasa terancam atau sebagai alat perlindungan dari musuh, namun yang membedakan dengan ubur-ubur ialah tinta hitam yang dikeluarkan cumi-cumi tidak mengandung racun.

Biasanya ubur-ubur yang beracun berwarna merah atau biru yang jarang muncul ke permukaan, namun perpindahannya disebabkan karena siklus air laut atau water movement secara teratur.

Bagian tubuh yang terkena sengatan ubur-ubur api atau ubur-ubur merah bisa menyebabkan gatal-gatal.

Baca: Layanan Digital BPJS Kesehatan Makin Canggih, Peserta JKN Kini Urus Administrasi Tanpa Antre

Akan tetapi, jika toksinnya lebih tinggi dan masuk ke saluran darah, akan mengganggu siklus peredaran darah, gerakan irama jantung, siklus pernafasan dan tingkat stres yang tinggi bisa mengakibatkan otot jadi kejang.

"Jangka panjang bisa mengakibatkan kematian," sambung dia. (*)



Lainnya
Bertekad Menang Pemilu 2024, Lebih 500 Bacaleg Golkar Se Riau Akan Ikuti Orientasi dan Pembekalan
Bertekad Menang Pemilu 2024, Lebih 500 Bacaleg Golkar Se Riau Akan Ikuti Orientasi dan Pembekalan
Selama Ramadhan, PJ Bupati Kamsol Sebut Pasokan Pangan
Wagubri Edy Natar Nasution Resmikan Bagas Godang di Ro
Heru, Warga Agam Berhasil Budidayakan Bunga Langka
Lifestyle
Kompres Es di Ketiak untuk Redakan Kecemasan? Ini Penjelasan Psikiater
Kompres Es di Ketiak untuk Redakan Kecemasan? Ini Penjelasan Psikiater
Bukan Gaji Bulanan, Segini Uang dan Bonus yang Bisa Dit
BPJS Kesehatan Masih Defisit Rp2 Triliun per Bulan, Dan
Fokus Redaksi
995 Airsoft Gun di Sekolah Jaksel Diklaim Berizin, Ini Penjelasan Perbakin
995 Airsoft Gun di Sekolah Jaksel Diklaim Berizin, Ini Penjelasan Perbakin
Pria Diduga Terjun dari Jembatan Rantau Berangin, Tim G
Kasus Tanah Warisan Kampar, Kuasa Hukum Minta Penyidik
Viral
PO MTrans Klarifikasi Viral Klakson Bus Suara Jokowi, Disebut Hasil Rekayasa
PO MTrans Klarifikasi Viral Klakson Bus Suara Jokowi, Disebut Hasil Rekayasa
Semarakkan Ramadhan, Masjid ini Rutin Berikan Hadiah Um
Polda Sumut Angkat Bicara soal Video Mahasiswa Berjaket
Entertainment
Teach You a Lesson di Netflix: Drama Kontroversial yang Menampar Keras Dunia Pendidikan
Teach You a Lesson di Netflix: Drama Kontroversial yang Menampar Keras Dunia Pendidikan
Salman Borneo, Pengisi Suara Plankton dan Giant di Film
Hendry Munief  Dorong Pemerintah untuk Hadir Bantu Ind
Kriminal
Polri Selidiki Pengusaha RI, 34 Lembar Uang Palsu Dolar Singapura Disorot
Polri Selidiki Pengusaha RI, 34 Lembar Uang Palsu Dolar Singapura Disorot
Aisar Khaled Dilaporkan ke Polda Metro Jaya, Dugaan Pen
Polda Riau Tetapkan 55 Tersangka Karhutla, Luas Lahan T
Global
Jepang Turunkan 3 Helikopter CH-47 dan 600 Personel Bantu Atasi Karhutla di Kalimantan
Jepang Turunkan 3 Helikopter CH-47 dan 600 Personel Bantu Atasi Karhutla di Kalimantan
Trump Ganti Nama Danau Ontario Jadi Danau Amerika, PM K
Prabowo Terima Ramos-Horta di Istana, 20 Peraih Nobel I
Daerah
PT Musim Mas Kerahkan Tim dan Peralatan Perkuat Penanganan Karhutla di Kerumutan Pelalawan
PT Musim Mas Kerahkan Tim dan Peralatan Perkuat Penanganan Karhutla di Kerumutan Pelalawan
Bupati Kampar Pastikan Bara Karhutla di Rimbo Panjang B
Hadirkan Koh Dennis Lim, Jambore BKPRMI Riau 2026 Usung