Data BPS Desa Mandiri di Jambi Meningkat
JAMBI, Kanal Sumatera.com – Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Jambi mencatat, berdasarkan hasil pendataan Potensi Desa (Podes) 2018, jumlah desa mandiri mengalami peningkatan.
"Semakin tinggi IPD (Indeks Pembangunan Desa), menunjukkan semakin mandiri desa tersebut. Diketahui jumlah desa mandiri ada 102 (7,29 persen), desa berkembang 1.228 (87,78 persen), dan desa tertinggal 69 (4,93 persen), dan di 2018 ini ada perbaikan indeks pembangunannya," kata Kepala BPS Provinsi Jambi Dadang Hardiwan, Senin (10/12).
Secara umum, kata Dadang, semua dimensi penyusun IPD mengalami peningkatan.
"Dimensi kenaikan tertinggi adalah penyelenggaraan pemerintah desa, yaitu sebesar 8,71 poin, sementara dimensi dengan kenaikan terkecil adalah transportasi yaitu sebesar 1,76 poin," ujarnya.
Pada tahun 2018, disampaikan Dadang, sebagian besar desa di Jambi termasuk dalam kategori desa berkembang dan sebagian kecil desa yang dikategorikan sebagai desa mandiri.
"Meskipun sebagian kecil desa terkategori sebagai desa mandiri, jumlah desa tersebut bertambah sebesar 72 desa bila dibandingkan tahun 2014. Sedangkan desa tertinggal berkurang sebesar 123 desa," bebernya.
Dadang juga menyatakan bahwa pada umumnya, penduduk dikawasan desa wisata memiliki tradisi dan budaya yang khas serta alam dan lingkungan yang masih terjaga. Pendataan Podes 2018 mencatat ada 31 desa wisata di Jambi dengan 87 objek wisata.
Selain potensi yang dapat terus berkembang, dimuat metrojambi.com pembangunan desa/kelurahan juga tidak luput dari beragam permasalahan yang dapat menjadi kendala sekaligus tantangan desa/kelurahan tersebut dimasa yang akan datang.
Salah satu tantangannya, jelas Dadang, yaitu bencana alam, yang perlu menjadi perhatian. "Jenis bencana alam yang didata Podes 2018 adalah tanah longsor, banjir, banjir bandang, puting beliung, gempa bumi, tsunami, gunung meletus, kebakaran hutan dan lahan, serta kekeringan,"sebutnya.
Pendataan Podes 2018 mencatat desa/kelurahan yang terdampak bencana alam selama tiga tahun terakhir yaitu meliputi bencana banjir terjadi di 575 desa/kelurahan, kekeringan 195 desa/kelurahan, kebakarn hutan dan lahan di 171 desa/kelurahan.
"Jika untuk pencemaran yang paling banyak terjadi adalah pencemaran air di 614 desa, pencemaran udara 153 desa/kelurahan dan pencemaran tanah hanya di 30 desa/kelurahan. Tapi kalau persentase desa/kelurahan menurut jenis gangguan keamanan pada penyalahgunaan atau pengedar narkoba terdapat 27,66 persen dan perkelahian massal 3,36 persen saja," tandasnya.mj/ir
