Tuduh Penyebab Karhutla, JMGR: Menko Wiranto Lukai Hati Peladang

Mawardi Tombang
Selasa, 17 September 2019 15:09:33
Presiden Jokowi saat meninjau lokasi kebakaran di Kabupaten Pelalawan Riau

Pekanbaru, KANALSUMATERA.com - Jaringan Masyarakat Gambut Riau (JMGR) menilai pernyataan Menteri Kordinator Politik, hukum dan Keamanan, Wiranto, yang mengatakan Karhutla sering terjadi karena aktifitas peladang dinilai melukai hati masyarakat gambut dan memperdalam derita psikis akibat bencana kabut asap yang tak kunjung berhasil ditangani oleh pemerintah. Permasalahan tersebut direspon langsung oleh Sekretaris Jenderal JMGR, Isnadi Esman.

“Dalam situasi sensitive seperti saat ini dimana masyarakat sedang menghadapi ancaman dari kabut asap seharusnya pejabat negara sebagai mana Pak Wiranto ini harus bisa menjaga pernyataanya, hal ini penting untuk menjaga situasi tetap kondusif. Masyarakat sudah cukup menderita baik fisik maupun pisikis menghadapi dampak dari kabut asap, hari ini masyarakat jangankan untuk mencari nafkah keluarga, untuk bernafas saja sudah susah. Untuk itu jangan lagi di perparah dengan tudingan masyarakat peladanglah yang menjadi puncak Karhutla” kesal Isnadi saat dihubungi pada Selasa (16/9/2019).

Pemerintah harus tahu, bahwa Karhutla yang pada setiap tahun terjadi ini bukan karena aktifitas perladangan masyarakat, masyarakat berladang hanya sebatas untuk memenuhi kebutuhan hidup, namun cukong dan pemodal seperti perusahaan yang lebih menuai kekayaan dari aktifitas pembakaran lahan. Di sisi lain kelemahan pemerintah yang tunduk pada korporasi, tidak berani mengintervensi secara maksimal kepada perusahaan untuk melakukan upaya restorasi, tidak mampu meberikan sanksi atas kerusakan gambut yang disebabkan perusahaan itu yang menjadi masalah kenapa Karhutla tidak kunjung terselesaikan

“Kita temukan di lapangan perusahaan menutup pintu air yang mengarah ke areal masyarakat secara permanen ketika musim kemarau seperti sekarang, sehingga dampaknya areal konsesi tetap basah sementara areal permukiman dan wilayah kelola masyarakat kering, sehingga mudah terbakar. Sebaliknya jika musim penghujan pintu-pintu air di perusahaan dibuka sehingga areal masyarakat kebanjiran. Solusi ini yang harus kongkrit diselesaikan oleh pemerintah agar Karhutla tidak lagi terjadi, bukan hanya dengan menjadikan masyarakat sebagai pemadam kebakaran ketika terjadi Karhutla namun lebih dari itu harus dengan solusi jangka panjang” pungkas Isnadi.

Baca: Adam Syafaat Reses di Binuang Sakti: Dorong Pembangunan Jalan Penghubung dan Internet Desa

“Perubahan alam yang terjadi di ekosistem gambut yang disebabkan oleh kanalisasi dan penebangan hutan alam oleh perusahaan itu berdampak pada mata pencarian masyarakat, termasuk peladang. Ketika gambut masih dalam bentuk alaminya yang basah, maka ketika ada sumber api tidak akan terjadi Karhutla. Namun jika kondisinya seperti saat ini, hanya dengan ketidak sengajaan seperti puntung rokok saja maka sudah memicu Karhutla yang sangat luas” tutup Isnadi.

Hingga saat ini di Riau sudah lebih dari 40.553 Hektare lahan gambut mengalami kebakaran, dan 281.622 jiwa terpapar Inspeksi Saluran Pernafasan Akut (ISPA) akibat Karhutla, bahkan sudah hampir sepekan sekolah dan kampus-kampus meliburkan aktifitas belajar mengajar. mt



Terkait
Wabup Kampar Hadiri Khitan Massal dan Donor Darah Milad Bank Syariah
Wabup Kampar Hadiri Khitan Massal dan Donor Darah Milad Bank Syariah
Wali Kota Pekanbaru Tinjau Jembatan Amblas di Rumbai, A
Sinergi Pusat dan Daerah, Pj. Sekda Kampar Hadiri Konso
Pemkab Kampar Tegaskan Komitmen Perkuat Ketahanan Panga
Lainnya
Lagi-lagi Akun Hoak Pj Bupati Kampar Muncul
Lagi-lagi Akun Hoak Pj Bupati Kampar Muncul
Tekan Angka Prevelensi Stunting, Disdalduk KB Ajak Warg
Dinas PUPR Pekanbaru Terus Gesa Pembangunan Pekanbaru
Gubernur Babel Tinjau Pengelolaan Kencing Kambing Menja
Leisure
Dua Penggerak Desa Sejahtera Astra Raih Satyalencana Kepariwisataan dari Presiden RI
Dua Penggerak Desa Sejahtera Astra Raih Satyalencana Kepariwisataan dari Presiden RI
Masyarakat Ingin Libur ke Rupat Utara Terpantau Meningk
Pengelola Wisata De Kotoz Audiensi dengan Bupati Kampar
Kriminal
Dipancing ke Kos, Wanita 19 Tahun Dibunuh Dua Pria di Jaktim
Dipancing ke Kos, Wanita 19 Tahun Dibunuh Dua Pria di Jaktim
Densus 88 Tangkap 11 Tersangka Terorisme di Enam Provin
Pusdokkes Polri Tingkatkan Kemampuan Personel Polda Ria
Nasional
Prabowo Targetkan 70 Ribu Polisi Hutan, Rekrutmen 21 Ribu Personel Dimulai Tahun Ini
Prabowo Targetkan 70 Ribu Polisi Hutan, Rekrutmen 21 Ribu Personel Dimulai Tahun Ini
Prabowo Lantik Letjen Kristomei Sianturi sebagai Kepala
DPR Desak Pemerintah Fasilitasi Jemaah Umrah Batal Bera
Fokus Redaksi
995 Airsoft Gun di Sekolah Jaksel Diklaim Berizin, Ini Penjelasan Perbakin
995 Airsoft Gun di Sekolah Jaksel Diklaim Berizin, Ini Penjelasan Perbakin
Pria Diduga Terjun dari Jembatan Rantau Berangin, Tim G
Kasus Tanah Warisan Kampar, Kuasa Hukum Minta Penyidik
Lifestyle
Kompres Es di Ketiak untuk Redakan Kecemasan? Ini Penjelasan Psikiater
Kompres Es di Ketiak untuk Redakan Kecemasan? Ini Penjelasan Psikiater
Bukan Gaji Bulanan, Segini Uang dan Bonus yang Bisa Dit
BPJS Kesehatan Masih Defisit Rp2 Triliun per Bulan, Dan
Daerah
PT Musim Mas Kerahkan Tim dan Peralatan Perkuat Penanganan Karhutla di Kerumutan Pelalawan
PT Musim Mas Kerahkan Tim dan Peralatan Perkuat Penanganan Karhutla di Kerumutan Pelalawan
Bupati Kampar Pastikan Bara Karhutla di Rimbo Panjang B
Hadirkan Koh Dennis Lim, Jambore BKPRMI Riau 2026 Usung
Budaya
69 TAHUN RIAU: KETIKA KEMAJUAN HARUS BERNAFAS MELAYU
69 TAHUN RIAU: KETIKA KEMAJUAN HARUS BERNAFAS MELAYU
Bandar Jaya Beraksi: Harmoni Tari dan Gendang Satukan B
Mengulik Sejarah Suku Tanjung dari Sumatera Barat