Kabut Asap Kandung 7 Zat Beracun, Bisa Sebabkan Anemia, Mandul, Idiot Hingga Kematian

Mawardi Tombang
Kamis, 10 Oktober 2019 14:47:52
Para pengendara menerobos kabut asap tebal di Jalan HR Subrantas, Pekanbaru, beberapa waktu lalu.

KANALSUMATERA..com PEKANBARUKabut asap akibat pembakaran hutan dan lahan kembali menyelimuti Kota Pekanbaru, Riau, Kamis (10/10/2019). Dengan demikian, warga Pekanbaru kembali harus menghirup udara mengandung racun.
Sedikitnya ada tujuh zat beracun yang dikandung kabut asap, berikut ini uraiannya, seperti dikutip dari idntimes.com.
1. Karbon Monoksida
U.S Forest Service menyebut bahwa asap hasil pembakaran mengandung karbon monoksida (CO). Ini merupakan gas beracun yang tidak bisa dilihat atau dicium baunya.
Setiap kali sesuatu dibakar (terutama yang mengandung karbon), maka akan melepaskan sejumlah karbon monoksida, terang laman Centers for Disease Control and Prevention.
Menghirup karbon monoksida bisa menyebabkan pusing, sakit kepala, mual dan muntah. Ngerinya, jika kadar karbon monoksida sangat tinggi, bisa menyebabkan seseorang pingsan bahkan meninggal! Kelompok
orang yang paling berisiko adalah bayi, orang tua (manula), orang dengan penyakit jantung kronis dan anemia.
2. Aldehida
Aldehida (CHO) ialah zat yang biasa ditemukan di asap hasil pembakaran. Menghirup aldehida menimbulkan serangkaian konsekuensi buruk bagi kesehatan. Seperti alergi pernapasan, penyakit neurodegeneratif, hipertensi dan lainnya. Ini mengacu pada penelitian berjudul ''Aldehyde Sources, Metabolism, Molecular Toxicity Mechanisms and Possible Effects on Human Health''.
Aldehida yang ditemukan dalam asap kayu termasuk formaldehida, akrolein, propionaldehida, butyraldehida, asetaldehida dan furfural, terang laman Thought Co. Lebih lanjut, kandungan aldehida di dalam asap hasil pembakaran adalah 0,6-5,4 g/kg kayu. Terlihat kecil, namun tetap membahayakan!

3. Metana
Selain itu, asap hasil pembakaran juga mengandung metana (CH4). Menghirup metana dalam jumlah kecil tidak menimbulkan efek bagi kesehatan. Sebaliknya, metana dengan konsentrasi tinggi bisa menggantikan oksigen di udara. Konsekuensinya, oksigen yang tersedia untuk bernapas menjadi semakin menipis.
Gejala setelah menghirup metana adalah detak jantung jadi cepat, pernapasan jadi cepat, kelelahan dan menyebabkan gangguan emosi. Bila oksigen yang tersedia semakin sedikit, kita akan mual, muntah, kolaps, kejang, koma bahkan bisa menimbulkan kematian, ungkap laman Canadian Centre for Occupational Health and Safety.
Sulfur dioksida (SO2) juga biasa ditemukan di dalam asap hasil pembakaran. Ini merupakan gas yang sangat reaktif, tidak berwarna dan berbau seperti korek api. Sulfur dioksida bereaksi dengan polutan di udara untuk membentuk partikel halus.
Apa yang terjadi ketika kita menghirup sulfur dioksida? Berbagai masalah kesehatan bisa timbul, seperti penyempitan dan pengetatan saluran udara di paru-paru, sesak napas dan batuk. Selain itu, sulfur dioksida juga menyebabkan iritasi pada sistem pernapasan dan mata. Resiko akan semakin parah pada penderita asma dan penyakit paru obstruktif kronik, terang laman Health Link British Columbia.

5. Nitrogen Oksida
Komponen lain yang ditemukan di dalam asap hasil pembakaran adalah nitrogen oksida. Nitrogen oksida merupakan kelompok yang berisi tujuh gas dan senyawa yang terdiri dari nitrogen dan oksigen. Nitrogen oksida biasanya digunakan sebagai bahan bakar roket dan bahan peledak, ungkap laman Tox Town.
Dua jenis nitrogen oksida yang paling berbahaya adalah oksida nitrat dan nitrogen dioksida. Terpapar nitrogen oksida menyebabkan penurunan fungsi paru-paru, iritasi pada sistem pernapasan, mata dan kulit. Selain itu, gas ini juga berkontribusi pada perubahan iklim. Tidak hanya membahayakan manusia, tetapi juga bumi!

6. Benzena
Selain itu, senyawa benzena (C6H6) juga ditemukan di dalam asap akibat kebakaran hutan. Benzena diproduksi secara alami akibat kebakaran hutan dan letusan gunung berapi. Biasanya, benzena dipakai untuk membuat plastik, serat sintetis, pelumas karet, pewarna, sampai pestisida dan obat-obatan, terang Wisconsin Department of Health Services.
Apabila seseorang menghirup udara dengan kadar benzena di atas 10 ppm dalam waktu singkat, ia akan merasa pusing, sakit kepala dan mengantuk. Resiko jangka panjangnya lebih berbahaya, yakni menyebabkan anemia, melemahkan sistem kekebalan tubuh, merusak organ reproduksi dan menyebabkan kemandulan.

Baca: Zulhelmi Arifin Resmi Jadi Sekda Pekanbaru, Wali Kota Tekankan Pelayanan dan Antikorupsi

7. Toluena
Asap akibat kebakaran hutan juga mengandung toluena (C7H8). Toluena berupa cairan bening, tidak berwarna dengan aroma yang khas. Toluena biasa digunakan sebagai bahan pembuatan cat, pengencer cat, perekat hingga cat kuku, jelas laman Agency for Toxic Substances & Disease Registry.
Terpapar toluena bisa menyebabkan masalah pada sistem saraf, sakit kepala, pusing, pingsan, gangguan kognitif, gangguan penglihatan dan pendengaran. Apabila seorang perempuan hamil terpapar toluena, maka akan menyebabkan keterbelakangan mental (idiot) dan gangguan pertumbuhan pada anak-anak.



Terkait
Belum Gelar RAT, Ratusan Koperasi di Pekanbaru Terancam Dibubarkan
Belum Gelar RAT, Ratusan Koperasi di Pekanbaru Terancam Dibubarkan
Wabup Kampar Lepas Kafilah MTQ Menuju Ajang Provinsi di
Bupati Ahmad Yuzar Terima Audiensi IKM Kampar, Perkuat
Penyegaran Organisasi, Dinkes Kampar Gelar Sertijab Kab
Lainnya
Hendry Munief Silaturahmi dengan Ketua NU dan Muhammadiyah Riau: Kolaborasi Bangun Ekonomi Ummat
Hendry Munief Silaturahmi dengan Ketua NU dan Muhammadiyah Riau: Kolaborasi Bangun Ekonomi Ummat
Laboratorium Sentral RSUD Bangkinang Diresmikan Plt. Se
Wako Rudi Ajak Organda Bangun Kota Batam, Sediakan Tran
Kebakaran di Meranti Riau Meluas
Politik
SBY Soroti Politik Indonesia yang Kian Memanas, Minta Prabowo Kembalikan Etika Kekuasaan
SBY Soroti Politik Indonesia yang Kian Memanas, Minta Prabowo Kembalikan Etika Kekuasaan
Polemik Ijazah Gibran Memanas, PAN, Gerindra, PKB hingg
Andi Arief Bantah AHY Incar Kursi Wapres, Demokrat Pili
Pariwara
Ritual Bakar Tongkang Bagansiapiapi Mendunia, Tradisi Sejak 1820 Jadi Magnet Wisata Internasional
Ritual Bakar Tongkang Bagansiapiapi Mendunia, Tradisi Sejak 1820 Jadi Magnet Wisata Internasional
Hendry Munief Dorong UMKM Pariwisata Belajar dari Thail
Pj. Wali Kota Pekanbaru Luncurkan Program Penghapusan D
Global
Jepang Turunkan 3 Helikopter CH-47 dan 600 Personel Bantu Atasi Karhutla di Kalimantan
Jepang Turunkan 3 Helikopter CH-47 dan 600 Personel Bantu Atasi Karhutla di Kalimantan
Trump Ganti Nama Danau Ontario Jadi Danau Amerika, PM K
Prabowo Terima Ramos-Horta di Istana, 20 Peraih Nobel I
Ottech
Aktivasi Internet Rakyat Mulai Januari 2026, Berikut Cara Daftar dan Biaya Langganannya
Aktivasi Internet Rakyat Mulai Januari 2026, Berikut Cara Daftar dan Biaya Langganannya
Google Resmi Ubah Strategi Update Android, Ini Informas
Disney Tuntut Google Dugaan Pencurian Hak Cipta AI, Ini
Viral
PO MTrans Klarifikasi Viral Klakson Bus Suara Jokowi, Disebut Hasil Rekayasa
PO MTrans Klarifikasi Viral Klakson Bus Suara Jokowi, Disebut Hasil Rekayasa
Semarakkan Ramadhan, Masjid ini Rutin Berikan Hadiah Um
Polda Sumut Angkat Bicara soal Video Mahasiswa Berjaket
Hoax or Not
Hotel di Lampung Di Teror Email Bom, Polisi Bergerak
Hotel di Lampung Di Teror Email Bom, Polisi Bergerak
Banyak Pelaku Terorisme Berasal dari Sumbar dan Sumsel,
Soal Penelantaran Kakek Bernama Abdul Jalil di Medan, I
Budaya
69 TAHUN RIAU: KETIKA KEMAJUAN HARUS BERNAFAS MELAYU
69 TAHUN RIAU: KETIKA KEMAJUAN HARUS BERNAFAS MELAYU
Bandar Jaya Beraksi: Harmoni Tari dan Gendang Satukan B
Mengulik Sejarah Suku Tanjung dari Sumatera Barat