Asa Kaum Lansia di Ujung Usia
Kanalsumatra.com - IDI - Sejumlah kaum lanjut usia (lansia) di Aceh Timur, hidup dalam keadaan serba kekurangan. Tempat tinggal mereka juga sangat memperhatikan. Di usia tua, dan akibat sakit yang dideritanya, para lansia ini hanya hidup pasrah karena tak mampu berbuat apapun lagi.
Untuk makan sehari-hari mereka mengharapkan kasih sayang, dan perhatian dari sanak saudara dan para dermawan. "Saya sudah tak berdaya lagi, hanya terbaring di tempat tidur dan tak bisa melihat lagi," ungkap Sri Jemat, janda berusia 62 tahun yang tinggal di rumahnya yang mulai lapuk di Gampong Seumanah Jaya, Kecamatan Ranto Peureulak, Aceh Timur, saat ditemui Serambi, Minggu (18/8).
Sri Jemat, mengaku selama ini tidak pernah mendapatkan bantuan sosial apapun dari pemerintah. Karena itu, di ujung usianya ia berharap ada pihak dermawan yang memberikan perhatian. "Semoga ada bantuan sebelum ajal menjemput," harap Sri Jemat.
Kesedihan serupa juga dialami Johariah (62) janda lansia yang hidup dalam keadaan serba kekurangan. Dinding rumahnya masih bocor, karena tak sepenuhnya ditutup seng bekas sehingga seringg masuk air saat hujan.
Akibat sakit yang dideritanya, untuk bangun dari tempat tidur pun Johariah tak kuasa. Namun ia sangat berambisi untuk menjalani pengobatan agar bisa sembuh dari sakit yang dideritanya. "Kini saya hanya hidup pasrah. Rumah saya pun sudah bocor-bocor," ungkap Johariah, yang berharap dapat dibantu oleh pemerintah.
Selain Sri Jemat dan Johariah, terdapat sejumlah janda lansia lagi yang tinggal di Gampong Seumanah Jaya yang hidup serba kekurangan dan mengharapkan perhatian dari pemerintah. Mereka yaitu Mariam Sulaiman (55), Halijah (55), Rabunah (60), dan Rabumah.
Selain janda lansia, juga terdapat sejumlah warga yang cacat fisik, juga hidup sangat memprihatikan. Seperti Hasan Maun, karena tidak bisa melihat dan bekerja lagi kini. Ia hanya terbaring di tempat tidur. Sakit serupa dan tak bisa melihat dialami Deni Syahputra. Ia juga mendiami rumah tak layak huni bersama istri dan lima anaknya yang masih kecil.
Dibantu anaknya, ia bekerja mencuci kendaraan di atas jembatan gampong setempat. "Meski tak bisa melihat, saya harus bekerja menghidupi anak-anak. Semoga pemerintah bisa membantu saya modal usaha," ungkap Deni, yang juga berharap rumahnya dapat direhab.(c49)
