Satu Tahun Gempa Palu, Pemuda Batipuh Ajak Masyarakat Palu Tersenyum Kembali
TANAH DATAR,KANALSUMATERA.com- Dahsyatnya musibah Gempa bumi dengan kekuatan 7,4 SR yang diikuti Tsunami dan Likuifaksi yang terjadi di Kota Palu Pada tanggal 28 September 2018 masih menyisakan luka yang amat dalam bagi masyarakat Palu dan sekitarnya.
Teriakan, Rasa takut, sedih, tangis, duka dan trauma masih mengiringi hari-hari korban sampai saat ini. Masih tergambar di pikiran mereka tangisan saudaranya untuk terakhir kalinya di telan tanah likuifaksi, hantaman tsunami dan tertimpa runtuhan gempa yang banyaknya mencapai ribuan orang.
Sekarang, satu tahun sudah bencana berlalu, Palu kembali dibangun secara perlahan oleh pemerintah dan lembaga-lembaga di dunia yang memberikan bantuan untuk Palu. Warga mulai bergerak lagi untuk menggapai asa menuju yang lebih baik dari keterpurukan, walaupun masih banyak penyintas yang masih tinggal di rumah hunian sementara di komplek pengungsian.
Sebagai seorang sarjana Bimbingan dan Konseling, Dony Darma Sagita Putra asli Jorong Gunung Bungsu, Kecamatan Batipuh Baruh, turun lansung kelapangan untuk memberikan pelayanan konseling dalam rangka mengurangi dan mengatasi trauma atau gangguan psikologis yang dialami oleh penyintas di Palu.
Dony yang sehari-harinya berprofesi sebagai dosen ini dikenal oleh mahasiswanya sebagai dosen yang sangat aktif terutama dalam kegiatan sosial. Bahkan untuk aplikasi keilmuanny, dony telah 2 kali berkunjung ke Palu yaitu pada awal terjadi bencana di bulan November 2018 dan September 2019.
Semua itu dilaksanakan atas misi kemanusiaan dan kepedulian social terhadap sesama yang di dukung oleh kampus tempat dia mengabdi di Universitas Muhammadiyah Prof. DR HAMKA Jakarta.
"Pada saat pertama kali berkunjung ke Palu saya tidak bisa menahan kesedihan dan empati saya terhadap saudara saya disana, begitu kuatnya mereka menghadapi ujian dari ALLAH SWT, di saat luka mereka masih bisa tersenyum bersama kami para relawan, saya merasa sangat kecil dan belum seberapa di banding mereka, Pokoknya Palu Pulih, palu bangkit, palu kembali tersenyum," tutur dony dihubungi via whatsapp Senin (14/10).
Menurut penuturannya, pada tahun 2007 dia juga pernah merasakan gempa di Batipuh, pada tahun 2009 gempa besar yang terjadi di Padang Pariaman bahkan tidur di pengungsian juga.
Namun menurut dia sangat berbeda dengan yang dia rasakan saat dia berkunjung dan bertemu lansung dengan korban di Palu. Bahkan ketika datang September lalu Dony masih di ingat oleh anak-anak pengungsi sebagai "kakak Badut" karena menurutnya pada November 2018 dia datang dengan berpakain badut untuk menghibur anak-anak korban bencana di daerah Petobo lokasi bencana likuifaksi terparah di Palu.
Lebih lanjut, dalam menjalankan misisnya dony memberikan pelayanan secara individual kepada penyintas yang mengalami trauma, melaksanakan Bimbingan Kelompok kepada remaja-remaja, pemberian informasi kepada orangtua dan Lansia serta memberikan permainan atau hiburan kepada anak-anak.
Hal ini merupakan bentuk aplikasi layanan Bimbingan dan Konseling terhadap masyarakat dalam rangka mengembalikan kehidupan efektif sehari-harinya masyarakat untuk kembali mencerakan hidupnya menjadi lebih berwarna dalam menghadapi masa depan kehidupan yang lebih baik.
Kegiatan sosial seperti ini bukanlah yang pertama di lakukan pemuda 28 tahun yang mudah tersenyum ini, namun juga di Lombok, Serang, lampung bahkan di Pariaman tahun 2009-2010 silam. Sebuah kebanggaan bagi orangtua dan masyarakat Gunung Bungsu, Batipuah Baruah memiliki anak muda seperti beliau. (**/Fajrur Rahmadhan)
